Perkembangan terbaru konflik di Timur Tengah menunjukkan dinamika yang kompleks yang melibatkan berbagai aktor lokal dan internasional. Selama tahun 2023, ketegangan di daerah tersebut meningkat, terutama di kawasan seperti Suriah, Israel-Palestina, dan Yaman.
Di Suriah, konflik yang telah berlangsung lebih dari satu dekade memasuki fase baru dengan peningkatan serangan oleh milisi yang didukung Iran terhadap tujuan yang merupakan sekutu AS. Pemerintah Suriah, di bawah Bashar al-Assad, terus berupaya untuk mengkonsolidasikan kekuasaannya dengan bantuan Rusia dan Iran. Namun, kekacauan tetap terjadi, terutama di utara Suriah di mana Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi, berhadapan dengan pasukan Turki. Pada bulan September, serangan drone Turki menargetkan pos-pos SDF, meningkatkan kecemasan akan eskalasi lebih lanjut.
Sementara itu, di Gaza, pertempuran antara Hamas dan Israel kembali meningkat. Menyusul serangan roket dari Gaza, militer Israel meluncurkan serangan udara yang menghancurkan sejumlah infrastruktur Hamas. Perkembangan ini menunjukkan betapa sulitnya mencapai gencatan senjata yang berkelanjutan, dengan masing-masing pihak saling menyalahkan tindakan provokatif. Situasi kemanusiaan di Gaza semakin memburuk, dengan blokade yang terus berlangsung dan kebutuhan yang semakin mendesak.
Di Yaman, perang saudara yang berkepanjangan antara pemerintah yang diakui secara internasional dan Houthi, yang mendapat dukungan Iran, terus berlanjut. Dengan intervensi koalisi yang dipimpin Arab Saudi, situasi kemanusiaan di Yaman berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Pertikaian di wilayah Marib tetap menjadi titik fokus, di mana Houthi berusaha untuk merebut kontrol, berakibat pada ribuan pengungsi.
Rusia dan Amerika Serikat tetap menjadi dua kekuatan utama yang berupaya mempengaruhi arah konflik. Rusia mendukung al-Assad, sementara AS berusaha untuk menahan pengaruh Iran di kawasan tersebut. Pertemuan diplomatik dalam bentuk negosiasi di meja harus dilanjutkan, namun hasilnya masih belum terlihat. Negosiasi sering terhambat akibat ketidakkonsistenan dan kurangnya kepercayaan antara pihak-pihak yang terlibat.
Selain itu, hubungan antara negara-negara Teluk dan Israel juga menunjukkan perubahan. Kerja sama di bidang ekonomi dan keamanan meningkat, terutama setelah normalisasi hubungan yang terjadi melalui Kesepakatan Abraham. Namun, keberadaan rakyat Palestina dan penyelesaian konflik tersebut tetap menjadi penghalang utama bagi stabilitas jangka panjang di kawasan.
Dengan demikian, masa depan Timur Tengah tetap tidak pasti. Setiap aktor, mulai dari pemerintah hingga kelompok bersenjata, memiliki motivasi dan tujuan yang berbeda. Untuk mencapai perdamaian yang langgeng, diperlukan upaya koordinasi yang lebih baik antara semua pihak, termasuk intervensi oleh kekuatan global dan regional. Para pemimpin di Timur Tengah harus menyadari bahwa kekerasan dan konflik tidak menghasilkan solusi dan bahwa dialog adalah satu-satunya jalan menuju penyelesaian yang adil dan lestari.